Penyakit TBC Penyebab Gejala Pengobatan

Tuberculosis atau TBC adalah salah satu dari sekian jenis penyakit yang menular, dan dalam beberapa kasus TBC dapat menyebabkan kematian. Hampir 80% tuberculosis menyerang paru-paru, walaupun organ-organ lain pada tubuh manusia dapat juga terserang penyakit tuberculosis.

Penyakit tuberculosis menyerang di hampir seluruh bagian belahan dunia selain penyakit HIV, karena penyakit TBC ini termasuk penyakit epidemiologi atau wabah. Bahkan di Indonesia menjadi urutan ketiga dunia dengan wabah TBC terbanyak.

Penyebab TBC

Tuberculosis lebih sering menyerang saluran pernafasan yaitu paru-paru. TBC terjadi karena terinfeksi oleh bakteri Mikrobakterium Tuberkolusa. Bakteri ini adalah sejenis bakteri berbentuk batang atau basil yang mempunyai sifat tahan terhadap sifat asam, sehingga apabila sudah terinfeksi bakteri ini akan membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan proses penyembuhan.

Cara TBC menular

Penularan TBC yang paling mudah adalah melalui udara yang telah terkontaminasi oleh mikrobakterium tuberculosa yang dikeluarkan oleh penderita TBC ketika sedang batuk atau bersin. Akan tetapi ada beberapa faktor yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan apakah seseorang tersebut setelah menghirup udara yang terkontaminasi menjadi tertular atau tidak. Faktor penularan TBC antara lain:

  • Banyaknya jumlah organisme atau banyaknya bakteri yang dikeluarkan ketika penderita TBC batuk atau bersin.
  • Konsentrasi pada jumlah bakteri yang ada di udara.
  • Berapa lama seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh bakteri.
  • Sistem pertahanan atau daya tahan tubuh seseorang.

Pada saat mikrobakterium terhirup ke dalam paru-paru dan menumpuk di dalam paru-paru, maka akan berkembang biak menjadi lebih banyak, sehingga dapat menyebar ke pembuluh-pembuluh darah dan juga kelenjar-kelenjar getah bening. Oleh karena itu TBC tidak hanya menyerang organ paru-paru saja melainkan bisa menyerang ke organ tubuh seperti otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, dan organ lainnya.

Paru-paru yang telah terinfeksi mikrobakterium ini dengan cepat akan menjadi koloni bakteri yang berbentuk globular atau bulat. Dengan sistem imunitas tubuh, sel-sel pada paru-paru akan membentuk dinding di sekitar mikrobakterium dengan membentuk jaringan parut, sehingga perkembangan mikrobakterium akan menjadi terhambat dan menjadi tuberkel.

Pada sistem imunitas yang baik, tuberkel ini akan terus dan tetap pada keadaannya yang beristirahat atau tertidur, biasa disebut dengan TBC laten. Sedangkan pada seseorang yang mengalami sistem imunitas buruk, tuberkel ini akan berkembang biak menjadi banyak sehingga terbentuk ruang di dalam paru-paru yang nantinya akan digunakan sebagai ruangan utama untuk memproduksi dahak. Selain itu sistem imunitas yang buruk juga dapat membangunkan tuberkel yang tertidur atau beristirahat ini menjadi aktif kembali atau disebut dengan TBC aktif.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang beresiko tinggi tertular TBC, yaitu:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk, biasanya dialami oleh penderita AIDS/HIV, penderita diabetes, dan pada orang yang sedang melakukan kemoterapi.
  • Keadaan sosial ekonomi buruk yang berakibat pada tidak tercukupinya gizi yang sehat.
  • Minimnya fasilitas pelayanan kesehatan pada masyarakat.
  • Merupakan pecandu narkoba.
  • Petugas-petugas medis yang berhubungan dengan penderita TBC.
  • Perokok.

Gejala TBC

Gejala TBC secara umum meliputi:

  • Demam ringan yang disertai dengan keringat yang berlangsung dalam waktu yang relatif lama, terutama terjadi pada malam hari.
  • Berkurangnya nafsu makan dan penurunan berat badan.
  • Batuk yang tidak berhenti dan terjadi lebih dari tiga minggu terkadang disertai dengan batuk berdarah.
  • Perasaan lemas dan lelah secara fisik dan tidak enak badan.

Gejala TBC secara khusus meliputi:

  • Terjadi infeksi di dalam bronkus yang menyebabkan sesak nafas, sebagai akibat dari tekanan kelenjar getah bening.
  • Jika di dalam rongga pleura terdapat cairan maka akan menyebabkan sakit di bagian dada.
  • Apabila infeksi terjadi di dalam tulang akan menyebabkan terbentuknya saluran yang berpusat pada kulit di atas tulang tersebut dan nantinya akan mengeluarkan cairan nanah.
  • Tingkat kesadaran yang menurun sehingga akan mengalami kejang.
  • Pada anak-anak bisa mengenai selaput otak sehingga dapat menyebabkan peradangan pada otak atau meningitis.

Diagnosa TBC

Pada pemeriksaan awal dokter akan melakukan tes secara fisik dengan memeriksa kondisi tubuh, apakah terdapat pembengkakan pada kelenjar getah bening melalui stetoskop. Langkah selanjutnya dokter akan melakukan beberapa tes untuk mengakuratkan diagnosis.

Tes yang dilakukan antara lain:

  • Anamnesa; yaitu jenis pemeriksaan TBC yang dilakukan kepada seluruh anggota keluarga penderita TBC.
  • Melakukan rontgen dada dengan X-ray atau CT scan, yang berfungsi untuk melihat perubahan yang terjadi pada paru-paru.
  • Pengambilan sampel darah, dahak, dan cairan dari dalam otak untuk diperiksa lebih lanjut di dalam laboratorium.
  • Tes tuberculin atau tes mantoux.
  • Melakukan pemeriksaan patologi anatomi.

Pengobatan TBC

TBC adalah penyakit yang tidak bisa tidak disembuhkan, pengobatan tuberculosis ini mempunyai tujuan untuk menyembuhkan infeksi melalui penggunaan obat untuk melawan bakteri penyebab tuberculosis. Maka dari itu sangat penting bagi penderita untuk mematuhi dan mengikuti anjuran dokter untuk terus meminum obat dan mengontrolkan diri ke dokter agar dapat sembuh total dari tuberculosis ini.

Pengobatan pada tuberculosis adalah jenis pengobatan jangka panjang yang berlangsung selama 6 bulan. Pengobatan ini tidak bisa berhenti begitu saja, harus dengan saran dan petunjuk dari dokter, jika pengobatan terputus atau berhenti ditengah jalan, maka hal ini justru akan lebih mempersulit dalam proses penyembuhan terhadap infeksi pada tuberculosis. Bakteri tuberculosis atau mikrobakterium ini akan menjadi lebih kebal atau resisten terhadap obat-obatan yang dapat mengobati infeksi. Waktu yang diperlukanpun akan jauh lebih lama lagi sekitar 1-2 tahun.

Beberapa jenis obat yang diberikan secara umum, antara lain isoniazid, rifampin, pyrazinamide, moxifloxanin, dan ethambutol. Sementara ada obat-obat jenis lain yang berfungsi untuk mengobati TBC adalah amikacin, ethionamide, moxifloxacin. para-aminosalicylic acid, dan streptomycin.

Pencegahan TBC

  1. Selalu menjaga kebersihan diri dan memelihara kesehatan tubuh.
  2. Dibutuhkan sarana dan prasarana kesehatan yang bertujuan untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan sedini mungkin pada penderita TBC.
  3. Pemberian obat INH yang berguna untuk mengobati secara preventif sebagai wujud dari pencegahan.
  4. Vaksinasi BCG yang diberikan ketika masih bayi sebagai antisipasi terhadap ibu dan keluarga, dan pemberian vaksinasi lanjutan setelah berumur 5 tahun dan 12 tahun yang bertujuan untuk melakukan pencegahan.
  5. Membatasi kontak fisik dengan penderita TBC.
  6. Menggunakan masker atau pelindung hidung dan mulut jika memang diperlukan.

TBC merupakan penyakit yang berbahaya. Terlambat menangani dapat benar-benar merugikan, bahkan yang terparah adalah menyebabkan kasus kematian. Segera hubungi pakar medis jika terdapat tanda dan gejala yang diamati seperti di atas. Ikuti saran yang diberikan oleh ahli medis terkait penyakit TBC yang merugikan ini.