Glomerulonefritis Penyebab Gejala Pengobatan

Glomerulonefritis juga dikenal dengan ‘nefritis glomerulus’ atau penyakit glomerulus. Pada kondisi ini terdapat peradangan pada unit penyaringan, atau yang dikenal dengan glomeruli. Glomeruli merupakan pembuluh darah yang begitu kecil pada ginjal yang bertugas sebagai filter. Peradangan tersebut akan mengakibatkan sel darah merah dan protein menjadi bocor dan masuk ke dalam urin dan sementara itu juga racun yang biasanya dihilangkan oleh ginjal masih terdapat di dalam tubuh. Ketika glomeruli mengalami peradangan, hal ini dapat merusak ginjal. Kerusakan pada ginjal juga dapat menyebabkan darah kekurangan protein, yang pada akhirnya keluar dari tubuh melalui urin.

Glomerulonefritis dapat terjadi secara akut atau secara tiba-tiba terjadi peradangan, dan juga dapat terjadi secara kronis atau secara bertahap.

Glomerulonefritis kronis akan ditandai dengan peradangan pada glomeruli, yang menghasilkan sclerosis, jaringan parut dan pada akhirnya mengarah pada gagal ginjal. Masalah ini umumnya berkembang dengan diam-diam dan tanpa menunjukkan gejala pada awalnya, dan terjadi selama bertahun-tahun.

Glomerulonefritis akut merupakan penyakit inflamasi yang melibatkan glomeruli ginjal dari kedua ginjal. Kondisi ini melibatkan reaksi antigen dan antibodi yang menyebabkan kerusakan pada kapiler glomerulus.

Penyebab glomerulonefritis

Terdapat beberapa penyebab glomerulonefritis dilihat dari jenisnya. Berikut akan dijelaskan penyebabnya di bawah ini:

  1. Autoimun
    Kondisi pada lupus eritematosus sistemik atau peradangan pembuluh darah, akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan yang sehat. Ketika sistem ginjal menjadi target serangan, maka dapat menyebabkan perkembangan glomerulonefritis. Penderita penyakit lupus akan lebih mungkin untuk mengembangkan glomerulonefritis.
  2. Tuberculosis
    Glomerulonefritis dapat berkembang sebagai akibat dari komplikasi tuberkulosis.
  3. Sifilis
    Sifilis dapat menyebabkan komplikasi yang berdampak pada glomerulonefritis.
  4. Infeksi virus
    Seseorang yang terinfeksi HIV, hepatitis B dan C dapat menderita glomerulonefritis lebih mudah dibandingkan dengan orang normal.
  5. Hipertensi
    Kondisi ini dapat merusak ginjal dan kemudian fungsi normal ginjal. Glomerulonefritis sendiri juga dapat menyebabkan hipertensi karena ginjal yang bertugas dalam mengatur tekanan darah mengalami kerusakan.
  6. Nefropati diabetik
    Penderita diabetes mempunyai potensi untuk mengembangkan nefropati diabetik. Kerusakan ginjal dapat dicegah dengan mengontrol diabetes.
  7. Penyakit hodgkin
    Penyakit ini adalah sejenis penyakit kanker yang dapat menyebabkan glomeruli menjadi rusak.
  8. Anemia sel sabit
    Ini adalah penyakit pada darah di mana terdapat bentuk abnormal pada hemoglobin.
  9. Obat-obatan terlarang
    Seseorang yang memakai obat-obatan terlarang berada pada resiko terkena glomerulonefritis lebih tinggi.
  10. Faktor genetik
    Tipe tertentu dari glomerulonefritis ada yang berjalan lewat riwayat keluarga, meski hal ini jarang terjadi.

Gejala glomerulonefritis

Jika glomerulonefritis termasuk ringan, hal ini mungkin saja tidak menunjukkan gejala apapun. Penderita juga mungkin tidak menunjukkan gejala glomerulonefritis yang begitu jelas. Biasanya gejala akan tergantung pada bentuk akut dan kronis. Pada sebagian besar orang, terdapat tanda-tanda pada hasil tes urin atau tes darah. Hal ini dikarenakan penyakit glomerulonefritis hanya dapat ditemukan sewaktu dilakukan pemeriksaan.

Jika kondisi menjadi lebih berat maka gejala glomerulonefritis yang terlihat pada urin akan berubah nampak kemerahan dan berwarna gelap. Jika urin berbusa ini berarti terdapat kelebihan protein dalam urin. Orang dewasa sehat dapat buang air kecil antara 1 sampai 1,5 liter per hari. Sedangkan penderita glomerulonefritis yang parah akan mengalami susah buang air kecil, dan ketika buang air kecil, mungkin saja akan terdapat darah dan protein dalam urin.

Penderita yang menderita glomerulonefritis karena disebabkan oleh kerusakan ginjal dapat mengalami gejala sbb:

  • Sesak nafas
  • Suhu tubuh yang tinggi
  • Nafsu makan berkurang
  • Mual dan muntah
  • Gangguan visi
  • Muka terlihat pucat

Gejala glomerulonefritis yang lain ditandai dengan ciri-ciri yang dapat meliputi; daerah sekitar kaki yang mengalami pembengkakan, dapat juga terjadi di pergelangan kaki, kaki bagian bawah, bengkak di mata, dan urin yang berwarna gelap karena terdapat sel darah merah pada urin. Jika mengalami hipertensi, maka akan menderita sakit kepala. Pada kasus yang parah akan terjadi koma pada penderita.

Diagnosa

  1. Dokter perlu mengetahui mengenai gejala yang terjadi sebelumnya, riwayat dalam keluarga, dan kondisi lainnya yang dapat mempengaruhi ginjal. Dokter akan menanyakan seberapa sering buang air kecil, berapa banyak urin dan warna pada urin. Selama dilakukan pemeriksaan, dokter akan mengukur tekanan darah, berat badan, dan memeriksa apakah terdapat pembengkakan di kaki atau di bagian lain dari tubuh.
  2. Dokter akan mengevaluasi fungsi ginjal melalui pemeriksaan darah dan urinalisis untuk mengetahui keadaan darah atau protein, tingkat antigen dan antibodi dalam darah yang dapat membantu dokter dalam mendiagnosis.
  3. Mengambil beberapa sel dari bagian belakang tenggorokan penderita untuk diselidiki.
  4. Penderita yang mempunyai penyakit ginjal mungkin saja harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah mereka terserang glomerulonefritis. Tes fungsi ginjal meliputi berbagai tes, termasuk sampel darah dan urin yang diperiksa untuk zat-zat tertentu yang dikeluarkan oleh ginjal.
  5. Dokter akan mengambil sampel jaringan ginjal melalui biposi ginjal. Biopsi ginjal memiliki resiko pendarahan yang relatif kecil. Pada umunya ini dilakukan pada penderita dengan glomerulonefritis kronis.
  6. Tes pencitraan termasuk X-ray, ultrasound scan, atau computerized tomography akan dilakukan.

Pengobatan glomerulonefritis

Cara mengobati glomerulonefritis akan tergantung pada perkembangan glomerulonefritis, meliputi kronis atau akut, dan seberapa parah gejala yang dialami.

  • Ketika glomerulonefritis disebabkan oleh infeksi, langkah pertama dalam pengobatan adalah untuk menghilangkan infeksi. Jika bakteri yang menyebabkan infeksi, akan diberikan obat antibiotik.
  • Penderita akan disarankan untuk mengurangi asupan cairan dan menahan diri untuk mengkonsumsi minuman beralkohol. Penderita dapat diarahkan ke ahli gizi yang akan memberikan rekomendasi pada asupan seperti kalium dan garam.
  • Di saat produksi urin menjadi lambat, penderita dapat diberikan obat diuretik, yang membantu tubuh untuk membersihkan diri dari kelebihan garam dan air dengan memproduksi lebih banyak urin. Obat diuretik dapat mengendurkan pembuluh darah, ini juga dapat diberikan untuk penderita dengan hipertensi.
  • Ketika glomerulonefritis berkembang menjadi parah, pilihan pengobatan termasuk adalah transplantasi ginjal. Jika transplantasi ginjal tidak mungkin dilakukan karena kondisi kesehatan yang buruk, dialisis menjadi satu-satunya terapi yang tersedia.

Tidur setidaknya 7 jam setiap malam dan mempunyai pola makan yang tepat meliputi sayuran dan buah terbukti secara klinis untuk menurunkan resiko glomerulonefritis. Pada sebagian besar bentuk glomerulonefritis tidak dapat dicegah. Maka itu berhati-hatilah untuk selalu menjaga kesehatan anda, ikuti pola hidup yang sehat untuk mencegah glomerulonefritis.