Home » Imunitas

Sindrom Antibodi Fospolipid

  •  Roswati

Sindrom antibodi fospolipid adalah suatu bentuk gangguan imunitas yang mempengaruhi sistem pembekuan darah, dimana trombosis yang terdapat di arteri dan vena menjadi terlalu mudah membeku. Mudahnya darah mengalami pembekuan dapat menyebabkan darah akan menjadi lebih kental, sehingga dapat membentuk gumpalan-gumpalan pada arteri dan vena, yang dapat menyebabkan perjalanan aliran darah terhambat.

Pada kondisi normal, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi yang bertugas melawan dan mempertahankan tubuh terhadap serangan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Akan tetapi pada kondisi ini, antibodi yang dihasilkan justru tidak mengenali jaringannya sendiri dan justru malah menyerangnya.

Penyebab sindrom antibodi fospolipid

Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis protein yang memiliki peranan dalam proses pembekuan darah. Ketika tubuh menghasilkan antibodi yang salah, maka antibodi akan menyerang protein fospolipid, yaitu sejenis lemak dalam darah. Protein fospolipid inilah yang mempunyai peranan penting dalam proses pembekuan darah tersebut. Adanya gangguan dapat menyebabkan terjadinya pembekuan darah yang tidak normal. Penggumpalan akibat pembekuan sel-sel darah ini dinamakan trombosis.

Pada kasus sindrom antibodi fospolipid, pembekuan darah terjadi secara berlebihan sehingga darah akan cepat menggumpal dan akibatnya dapat menyumbat aliran darah ke seluruh tubuh. Hal ini membuat tubuh kekurangan suplai darah dan berdampak pada kerusakan jaringan dan organ pada tubuh.

Sindrom antibodi fospolipid dapat menyerang siapa saja, namun sindrom ini akan lebih beresiko terjadi pada wanita dan seseorang dengan gangguan sistem imun. Sindrom ini juga dapat menyerang pada jaringan-jaringan tubuh dan organ tubuh yang lain. Kerusakan yang diakibatkan tergantung dari organ tubuh manakah yang mengalami gangguan.

Sindrom ini dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu primer dan sekunder. Primer terjadi bukan karena mengalami gangguan imunitas akibat hal lain, sementara sekunder muncul akibat seseorang menderita gangguan sistem imun lainnya seperti lupus. Namun penyebab secara spesifik dari sindrom ini belum diketahui secara pasti. Menurut beberapa penelitian terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya sindrom antibodi fospolipid. Faktor yang dapat menjadi penyebab sindrom antibodi fospolipid antara lain sbb:

  • Memiliki gangguan sistem imun.
  • Obat-obatan tertentu, seperti obat darah tinggi, obat anti kejang fenitoin, obat untuk mengatur irama jantung, dan antibiotik amoksilin.
  • Infeksi hepatitis C, HIV, dan infeksi malaria.
  • Faktor genetik.

Gejala sindrom antibodi fospolipid

Gejala yang muncul pada sindrom antibodi fospolipid antara lain:

  • Trombosis di arteri yang dapat memicu serangan jantung dan stroke.
  • Keguguran yang berulang bahkan bayi lahir dalam kondisi mati. Hal ini diakibatkan karena trombosis menghalangi pembawa nutrisi dalam darah, sehingga menyebabkan janin kekurangan nutrisi.
  • Terasa nyeri dan kesulitan bernafas.
  • Kelelahan yang tanpa sebab.
  • Stroke yang terjadi pada usia muda.
  • Fenomena vasospatik, yaitu sakit kepala sebelah atau migrain.
  • Tekanan darah yang terlalu tinggi ketika hamil.
  • Pendarahan yang terjadi di hidung dan gusi akibat dari turunnya trombosit.
  • Pergelangan tangan dan lutut mengalami ruam dan membengkak.
  • Kesemutan dan gangguan pada pendengaran ataupun penglihatan.
  • Pada kulit akan muncul bercak kecil-kecil atau bintik merah.

Diagnosa

Ketika gejala mulai dirasakan, mengunjungi dokter merupakan langkah pertama yang tepat untuk mendapatkan penanganan karena penyakit ini cukup berbahaya. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan terkait dengan gejala dan keluhan yang dirasakan. Dokter juga akan menanyakan pada pasien tentang riwayat kesehatan dan riwayat kesehatan keluarga. Pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter adalah dengan melakukan pemeriksaan pada darah pasien. Tujuan dari pemeriksaan darah untuk mengetahui hal sbb:

  • Peningkatan konsentrasi anti cardiolipin antibodi dan Beta-2 glikoprotein dengan melakukan pemeriksaan sebanyak 2 kali dalam jangka waktu minimal setiap 6 minggu.
  • Pemeriksaan lupus antikoagulan dalam plasma darah yang dapat dilakukan 2 kali dengan selang waktu setiap 6 minggu.

Pengobatan sindrom antibodi fospolipid

Sindrom antibodi fospolipid tidak dapat disembuhkan. Langkah pengobatan yang dilakukan hanya sebatas tindakan pencegahan pada penggumpalan darah dan menekan penggumpalan darah yang telah terjadi tidak semakin parah.
Obat yang umumnya digunakan untuk mengatasi penggumpalan darah antara lain warfarin dan heparin. Jika sindrom tersebut disebabkan karena adanya suatu penyakit, maka dokter akan melakukan pengobatan untuk mengatasi penyakit tersebut.

Obat-obatan pada wanita hamil diberikan oleh dokter dengan dosis yang rendah, karena dosis yang terlalu tinggi dapat membahayakan janin yang dikandung. Jika ibu hamil beresiko menderita sindrom antibodi fospolipid, maka harus melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan sedini mungkin.

Bagikan